Tuesday, March 11, 2014

10 Alasan Kenapa Perangkat Genggam Harus Dilarang untuk Anak Dibawah Umur 12 Tahun



 


The American Academy of Pediatrics dan Canadian Society of Pediatrics menyatakan bahwa anak berusia 0-2 tahun seharusnya tidak terpapar oleh teknologi, usia 3-5 tahun dibatasi satu jam per hari, dan 6-18 tahun dibatasi 2 jam per hari (AAP 2001/13, CPS 2010). Anak-anak dan remaja menggunakan teknologi 4-5 kali dari jumlah yang disarankan, dengan konsekuensi serius bahkan membahayakan hidup mereka (Kaiser Foundation 2010, Active Healthy Kids Canada 2012). Perangkat genggam (ponsel, tablet, permainan elektronik) telah secara dramatis meningkatkan aksesibilitas dan penggunaan teknologi, terutama pada anak-anak yang masih kecil (Common Sense Media, 2013). Sebagai seorang pediatric occupational therapist, saya menyerukan kepada orang tua, guru dan pemerintah untuk melarang penggunaan semua perangkat genggam untuk anak di bawah usia 12 tahun. Berikut adalah 10 alasan berdasarkan penelitian yang menjadi alasan untuk pelarangan ini. Silahkan kunjungi zonein.ca untuk melihat Zone'in Fact Sheet untuk penelitian yang dimaksud.

1. Pertumbuhan otak yang cepat

Antara usia 0 dan 2 tahun, ukuran otak bayi membesar tiga kali lipat, dan terus dalam keadaan perkembangan pesat sampai usia 21 tahun (Christakis 2011). Perkembangan awal otak ditentukan oleh rangsangan lingkungan, atau sebaliknya, ketiadaannya. Rangsangan untuk otak yang sedang berkembang oleh paparan berlebihan (overexposure) teknologi (ponsel, internet, iPads, TV), telah terbukti berhubungan dengan fungsi eksekutif dan gangguan pemusatan perhatian (attention deficit), penundaan kognitif, gangguan belajar, peningkatan impulsivitas dan turunnya kemampuan untuk mengatur diri sendiri, misalnya mengamuk (tantrum) (Small 2008, Pagini 2010).

2. Perkembangan yang tertunda

Penggunaan teknologi membatasi gerakan, yang dapat mengakibatkan tertundanya perkembangan. Satu dari tiga anak sekarang masuk sekolah dalam keadaan perkembangan tertunda, yang berdampak negatif pada kemampuan membaca (literasi) dan prestasi akademik (HELP EDI Maps 2013). Bergerak meningkatkan perhatian dan kemampuan belajar (Ratey 2008). Penggunaan teknologi di bawah usia 12 tahun merugikan perkembangan anak dan belajar (Rowan 2010).

3. Wabah Obesitas

TV dan video game berhubungan dengan meningkatnya obesitas (Tremblay 2005). Anak-anak yang diperbolehkan memiliki perangkat elektronik di kamar tidur mereka memiliki 30% peningkatan kejadian obesitas (Feng 2011). Satu dari empat anak Kanada, dan satu dari tiga anak AS mengalami obesitas (Tremblay 2011). 30% dari anak-anak dengan obesitas memiliki kemungkinan diabetes, dan penderita obesitas berada pada risiko tinggi untuk stroke dini dan serangan jantung, dan memiliki harapan hidup lebih pendek (Center for Disease Control and Prevention 2010). Utamanya tersebab obesitas, anak-anak abad ke-21 mungkin menjadi generasi pertama yang mana kebanyakan dari mereka tidak akan hidup lebih lama dari orang tua mereka (Profesor Andrew Prentice, BBC News 2002).

4. Kehilangan waktu tidur

60% orang tua tidak mengawasi penggunaan teknologi anak-anak mereka, dan 75% dari anak-anak diperbolehkan menggunakan teknologi di kamar tidur mereka (Kaiser Foundation 2010). 75% dari anak-anak berusia 9 dan 10 tahun kurang tidur yang berdampak pada menurunnya prestasi sekolah mereka (Boston College 2012).

5. Penyakit mental

Teknologi yang berlebihan bersangkutpaut sebagai faktor penyebab dalam meningkatnya tingkat depresi anak, kecemasan, gangguan bersosialisasi, perhatian yang lemah, autisme, gangguan bipolar, psikosis dan perilaku anak bermasalah (Bristol University 2010, Mentzoni 2011, Shin 2011, Liberatore 2011, Robinson 2008). Satu dari enam anak Kanada didiagnosa memiliki penyakit mental, yang mana banyak di antaranya berada dalam pengaruh obat psikotropika berbahaya (Waddell 2007).

6. Agresi

Konten media kekerasan dapat menyebabkan agresi anak (Anderson, 2007). Anak-anak semakin banyak terimbas dalam kekerasan fisik dan seksual di media saat ini. “Grand Theft Auto V” menggambarkan seks eksplisit, pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan mutilasi, seperti yang terdapat dalam banyak film dan acara TV. AS telah mengkategorikan kekerasan media sebagai Risiko Kesehatan Masyarakat akibat dampak kausal pada agresi anak (Huesmann 2007).

7. Demensia digital

Muatan media yang berkecepatan tinggi dapat berkontribusi terhadap gangguan pemusatan perhatian (attention deficit), juga menurunnya daya konsentrasi dan memori, karena otak pemangkasan jalur saraf ke korteks depan (Christakis 2004, Small 2008). Anak-anak yang tidak bisa memusatkan perhatian, tidak bisa belajar.

8. Kecanduan

Sementara orang tua makin terikat lebih pada (perangkat) teknologi, mereka makin terpisah dari anak-anak mereka. Dengan tidak adanya ikatan dengan orangtua, anak-anak yang terpisah dengan mudah terikat ke perangkat (teknologi), yang dapat mengakibatkan kecanduan (Rowan 2010). Satu dari 11 anak usia 8-18 tahun mengalami kecanduan teknologi (Gentile 2009).

9. Emisi radiasi

Pada bulan Mei 2011, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan ponsel (dan perangkat nirkabel lainnya) sebagai risiko kategori 2B (possible carcinogen) karena emisi radiasi (WHO 2011). James McNamee dengan Health Canada pada bulan Oktober 2011 mengeluarkan peringatan yang menyatakan “Anak-anak lebih sensitif terhadap berbagai agen daripada orang dewasa karena otak dan sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang, sehingga Anda tidak bisa mengatakan risiko akan sama untuk orang dewasa muda sebagaimana untuk seorang anak.” (Globe and Mail 2011). Pada bulan Desember 2013 Dr. Anthony Miller dari University of Toronto’s School of Public Health merekomendasikan bahwa berdasarkan penelitian terbaru, paparan frekuensi radio harus direklasifikasi sebagai 2A (probable carcinogen), bukan 2B (possible carcinogen). American Academy of Pediatrics meminta peninjauan emisi radiasi EMF dari perangkat teknologi, menyebutkan tiga alasan mengenai dampaknya pada anak-anak (AAP 2013) .

10. Tidak lestari (Unsustainable)

Cara-cara dimana anak-anak dibesarkan dan dididik dengan teknologi adalah tidak lestari, unsustainable (Rowan 2010). Anak-anak adalah masa depan kita, tetapi tidak ada masa depan bagi anak-anak yang berlebihan menggunakan teknologi. Pendekatan berbasis tim adalah perlu dan mendesak untuk mengurangi penggunaan teknologi oleh anak-anak.

Silakan merujuk pada slide yang dipertunjukkan di www.zonein.ca bawah “video” untuk berbagi dengan mereka yang peduli tentang teknologi berlebihan pada kanak-kanak.


           Problems - Suffer the Children - 4 minutes
           Solutions - Balanced Technology Management - 7 minutes


Berikut adalah Pedoman Penggunaan Teknologi untuk anak-anak dan remaja yang dikembangkan oleh Cris Rowan, terapis okupasional pediatrik dan penulis Virtual Child; Dr. Andrew Doan, neuroscientist dan penulis Hooked on Games; dan Dr. Hilarie Cash, Direktur ReSTART Internet Addiction Recovery Program dan penulis Video Games and Your Kids, dengan kontribusi dari The American Academy of Pediatrics dan The Canadian Pediatric Society sebagai upaya untuk memastikan masa depan yang lestari untuk semua anak.
 


(Cris Rowan, pediatric occupational therapist, biologist, speaker, author)

Sumber:

http://www.huffingtonpost.com/cris-rowan/10-reasons-why-handheld-devices-should-be-banned_b_4899218.html - “10 Reasons Why Handheld Devices Should Be Banned for Children Under the Age of 12”



 

 

Tuesday, February 4, 2014

Pangan Lokal ala Abah Sorgum



Kompas, Rabu, 5 Februari 2014
Sosok : Supardi
Pangan Lokal ala Abah Sorgum


====================
Tidak pernah terlintas di benak Supardi (73) bahwa hobinya bercocok tanam akan membuat dia menjadi seorang petani “berpengaruh” di Indonesia. Belakangan, Supardi justru dikenal dengan sebutan Abah Sorgum karena dia memang membudidayakan sorgum sekaligus mengolah pangan berbahan sorgum.
====================

Supardi tidak hanya membudidayakan sorgum untuk dirinya sendiri. Dia juga gencar mengajak petani lain untuk menanam sorgum. Alasan Supardi, sorgum bisa menjadi salah satu alternatif pangan di Tanah Air.

Abah, begitu Supardi biasa dipanggil, rnengajarkan cara bercocok tanam hingga mengolah biji sorgum menjadi berbagai makanan, seperti beras sorgum, tepung, bubur, kue brownies, hingga bolu.

Petani binaan Supardi bukan saja berasal dari daerah di sekitar tempat tinggalnya di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Mereka juga berasal dari beberapa wilayah di Nusantara, seperti Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.

Bahkan, ada pula sejumlah orang yang datang dari luar negeri, seperti India, Thailand, dan Vietnam. Mereka datang ke rumah Supardi untuk belajar bertanam dan rnengolah sorgum. Selain itu, Supardi juga menjadi pembicara dalam sejurnlah seminar untuk menularkan ilrnunya tentang budidaya dan pengolahan sorgum.

Mendapat tempat

Kegigihan Supardi menanam sorgum juga mulai disambut baik oleh pemerintah daerah. Setiap Jumat, Bupati Bandung menggelar coffee morning bersama pejabat Kabupaten Bandung, dengan menu bubur sorgum. Sorgum pun sedikit banyak mulai mendapat tempat di negeri ini.

“Sorgum bisa ditanam di Indonesia. Saya hanya ingin generasi mendatang menyukai sorgum sehingga kita tidak selalu bergantung pada beras. Kalau bergantung terus pada beras, kita akan selalu membeli beras dari luar negeri. Kondisi ini rasanya sangat memprihatinkan,” kata Supardi.

Padahal lanjutnya, “Kita seharusnya bisa memenuhi kebu tuhan pangan dalam negeri dari produksi negeri kita sendiri yang kaya dan subur ini.” Supardi mengatakan hal itu beberapa waktu lalu dalam seminar “Pa rade Pangan Nusantara” di Malang, Jawa Timur.


Sorgum menurut Supardi, awalnya berasal dari Afrika. Namun, pada era penjajahan, diduga tanaman ini mulai berkembang di Tanah Air seiring dengan maraknya pangan rakyat seperti bulgur.

Apa pun itu, bagi Supardi, sekarang sorgum sudah menjadi bagian dari pertanian di Indonesia. Itu sebabnya, dia bertekad mengembangkan sorgum menjadi bagian dari pangan lokal di Indonesia.

Tergelitik

Kegigihan Supardi mengupayakan sorgum agar lebih meluas ditanam petani dan dikonsumsi banyak orang bukan tanpa alasan. Sebagai mantan tentara berpangkat pembantu letnan dua (pelda) di Batalyon 330 Kodam III/Siliwangi, Jawa Barat, nurani Supardi tergelitik ketika dari hari ke hari Indonesia semakin bergantung pada negara lain dalam hal pangan. Padahal, negeri ini dianugerahi kesuburan dan potensi pertanian luar biasa.

“Jangan lagi nanti kita membeli pangan dari luar (negeri). Kita harus bisa memenuhi kebutuhan pangan bangsa kita sendiri dengan kekuatan dan pengetahuan kita sendiri. Pengetahuan kita tidak kalah dengan orang- orang luar negeri, kok," ujar suami dari Cicih ini.

Beberapa petani dari luar negeri yang bertemu Supardi justru rnerasa kaget mengetahui Supardi mampu menyulap tanaman sorgum menjadi berbagai makanan. Biasanya mereka hanya menjadikan tanaman sorgum sebagai pakan ternak.

Supardi bercerita, dirinya mulai bertani sejak pensiun dari kesatuannya tahun 1987. Sebagai petani “baru”, dia mencoba menanam berbagai jenis tanaman.

Namun, tahun 1999 hati Supardi tertarnbat pada tanaman unik yang bentuknya dia nilai indah. Di sawahnya yang terletak di pinggir anak Sungai Citarum, tanaman seperti jagung dengan buah berbentuk biji-bijian tersebut sernakin menawan hati Supardi.

Sejak saat itu, selama enam bulan dia mencoba mengembangkan tanaman tersebut. Sorgum yang dikembangkan Supardi terdiri atas dua jenis, yaitu sorgum putih dan sorgum merah.

Sorgum putih berusia 3 bulan 18 hari, sedangkan sorgum merah berusia 5-6 bulan. Tanaman sorgum hidup di dataran rendah, di mana tanahnya tidak terendam air.

“Menanam sorgum tidak rumit. Hama tanaman ini hanya tikus dan burung. Jadi, lebih aman jika tanaman sorgum itu kita tutup dengan jaring. Tanaman sorgum tidak perlu disemprot pestisida karena ini berarti kita juga 'makan' racun pestisida tersebut,” ujar Supardi.

Selama ini Supardi mengupayakan tanaman sorgumnya berkernbang secara organik. Dia hanya membutuhkan pupuk secukupnya untuk tanaman tersebut.
 
Berbagai olahan 

Tidak hanya menanarn sorgum, Supardi juga mengolah sorgum menjadi berbagai olahan makanan, seperti bubur dan brownies atau bolu. Dibantu sang istri, Cicih, dan anaknya yang menjadi analis kesehatan, Supardi terus menyosialisasikan pangan alternatif nonberas tersebut kepada masyarakat.

“Sorgum bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan. Asal mau mencoba dan belajar, kita bisa menjadikan sorgum sebagai salah satu alternatif makanan pengganti beras,” tutur Supardi meyakinkan.

Tahun 2011 Supardi menemukan alat yang disebutnya “mesin sosoh beras sorgum pedesaan”. Alat ini berupa mesin pembuat beras dan tepung sorgum. Mesin ini merupakan penyempurnaan dari mesin buatan Universitas Padjadjaran, Bandung, yang sebelumnya bekerja sama dengan Supardi untuk mengolah biji-biji sorgum hasil panennya.

“Saya yakin sorgum bisa menjadi alternatif pangan di Tanah Air. Kita harus yakin bahwa kita tidak harus bergantung pada beras selamanya,” ujar Supardi, warga Kampung Bojong Koneng, RT 001 RW 006, Desa Bojong Manggu, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, ini.

Dia lalu menyebutkan, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) merilis data bahwa sorgum mengandung 329,00 kalori; 10,40 gram protein; 70,70 gram karbohidrac; 25,00 gram kalsium; dan beberapa kandungan nutrisi lain. Kandungan dalam sorgum tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di dalam jagung dan beras.

Oleh karena itulah, dari hari ke hari, Supardi terus mengampanyekan pangan alternatif non beras. Bagi dia, lebih baik makan makanan produksi dari dalam negeri daripada harus terus-menerus bergantung pada pangan dari luar negeri.

Semangat Supardi untuk menularkan antusiasme mencari pangan alternatif tersebut patut diacungi jempol. Semangatmya agar Indonesia mandiri dalam pangan tidak tergantung dari luar negeri.

====================
SUPARDI
Lahir: Bandung, 31 Desember 1940
Pekerjaan: Petani sorgum
Pendidikan: Sekolah Rakyat
Istri: Hj Cicih
Anak:
- HM Rusianto
- Dedi Rohman
- Asep Sulisno
- Abdullah Arofah
- Hj Neneng Supriyatiningsih
====================
Oleh: Dahlia Irawati

Monday, December 30, 2013

Pitoyo Ngatimin: Mengobarkan Semangat Kembali ke Alam




Kompas, Selasa, 17 Desember 2013

Sosok
Pitoyo Ngatimin
Mengobarkan Semangat Kembali ke Alam

Perjalanan hidup saat memutuskan untuk lepas dari bahan kimia pada 1998 disyukuri Pitoyo Ngatimin (46), petani sayur organik dari lereng Gunung Merbabu. Setelah 15 tahun berlalu, tujuan utamanya tak lagi memulihkan lahan yang rusak, melestarikan alam dan memenuhi kebutuhan pasar. Lebih dari itu, ia ingln membebaskan generasi penerus dari racun bahan kimia yang seharl-hari masuk ke tubuh orang lewat sayuran.

==========

“Saya meyakinkan teman-teman petani, dengan menjalani pertanian organik kita ikut menyelamatkan sesama. Penyadaran itu harus dibangun meski efeknya perlahan dan membutuhkan waktu lama,” kata Pitoyo, warga Dusun Selo Ngisor, Desa Batur, Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Pesan utama yang ingin dia sampaikan lewat pertanian organik adalah membebaskan manusia dari racun yang mengendap dalam sayuran dan dikonsumsi umumnya masyarakat setiap hari. Racun yang terus-menerus dipaparkan lewat pupuk kimia dan pestisida berbahaya.

Tak mudah meyakinkan masyarakat untuk mengonsumsi sayuran organik. Selain penampilannya tak semenarik sayuran yang diproduksi menggunakan bahan kimia, harga jualnya pun lebih mahal. “Tetapi, sayuran organik memiliki rasa yang lebih enak dan lebih tahan lama ketimbang sayuran yang terpapar bahan kimia,” ujarnya.

Di sisi lain, pasar semakin merespons kehadiran produk organik. Maka berapa pun produksinya, sayuran organik relatif habis terserap pasar.

Kesetiaannya selama bertahun-tahun menekuni pertanian sayur organik mulai dia petik. Gerakan pertanian organik yang dia rintis tak hanya berhasil meyakinkan kelompok tani di dusunnya, tetapi juga berkembang kepada kelompok tani lain di Kabupaten Semarang. Bahkan, gaung pertanian sayur organik dari dusun yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari Kota Salatiga ini memancar hingga ke luar Pulau Jawa.

Hal lain yang membuat Pitoyo senang, produk sayur organik dari Dusun Selo Ngisor selain diterima di pasar modern juga menembus pasar ekspor. Selma empat tahun terakhir, produk buncis organik ini diekspor ke Singapura dan Malaysia.

Untuk memenuhi permintaan asing, selain menjaga kontinuitas pengiriman sayur organik, ia juga terus berupaya memperluas jaringan petani yang memproduksi sayuran organik agar memenuhi syarat ekspor.

Sering Pitoyo bersama petani di dusunnya mengemas sendiri sayuran organik demi mengejar pengiriman untuk ekspor. Ini dilakukannya meski pada pagi hingga siang hari ia harus mengajar di Sekolah Pertanian Pembangunan Dharma Lestari di Kota Salatiga. Begitulah aktivitas sehari-hari pendiri Kelompok Tani Tranggulasi pada 2004 itu.

Pitoyo menambahkan, permintaan ekspor sayuran organik terus  bertambah. Kini volume pengiriman sayuran mencapai 1 ton setiap minggu. Jika dulu sayur yang diekspor hanya buncis perancis, kini bertambah menjadi 14 jenis sayuran lain, seperti brokoli, wortel, timun jepang, terung, bayam, labu siam, kol putih, dan kol merah.

Menginspirasi

Sebanyak 32 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Tranggulasi tetap setia, berkomitmen memenuhi permintaan pasar atas sayur organik. Setiap bulan ada kunjungan petani dari sejumlah daerah yang ingin belajar dari kelompok tani yang dia pimpin.

Pitoyo juga terbuka dengan mahasiswa yang menjalani praktik kerja lapangan atau magang. Berbagai penghargaan sudah dia dan kelompok taninya terima. “Saya dua kali bersalaman dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” ujarnya, menunjukkan foto saat menerima penghargaan ketahanan pangan Adikarya Pangan Nusantara Tahun 2011 di Istana Negara.

Seiring dengan keberhasilan Pitoyo dan Kelompok Tani Tranggulasi, semakin banyak kelompok tani organik bermunculan. Selain bisa memenuhi permintaan pasar, mereka juga mendapat bantuan pemerintah dalam program Go Organic.

Meski demikian, untuk mengelola kelompok tani diakui Pitoyo tak mudah. Di sini diperlukan sistem manajemen yang dapat diterima anggota. Di Kelompok Tani Tranggulasi, ada pengaturan siapa yang menanam sayur apa sehingga stok sayur selalu tersedia. Untuk menjaga kontinuitas seperti ini, sulit dilakukan. “Diperlukan komitmen semua anggota,” tegasnya.

Ini termasuk saat permintaan buncis perancis menurun dan pembeli meminta jenis sayuran lain. Mereka menyanggupinya. “Kami harus bisa terus berinovasi, menyediakan berbagai produk meskipun ini berat,” ungkapnya.

Untuk menyediakan wortel berukuran mini, misalnya, meski secara waktu lebih singkat karena dipanen di awal, secara volume sulit karena jumlahnya lebih banyak. Padahal luas lahan mereka tetap, 16,5 hektar.

Manajemen keuangan juga diatur. Dari harga jual sayur ekspor Rp 8.000 per kilogram, misalnya, harga di tingkat petani Rp 6.000. Sisanya, Rp 100 untuk kas kelompok, Rp 500 untuk sortasi, dan Rp 1.400 untuk operasional pengelola. Pengalaman kelompok tani ini juga dituangkan dalam prosedur operasional standar budi daya sayuran orgariik di dataran tinggi yang diterbitkan Kementerian Pertanian tahun 2008.

Dari kegagalan

Titik balik Pitoyo bermula tahun 1998 saat hasil panen kubis di lahan seluas 4.000 meter persegi miliknya hanya dihargai Rp 60.000. Harga kubis saat itu jatuh, Rp 60 per kilogram. Kesal hati, ia lalu menggunakan pupuk kandang untuk tanaman. Berkali-kali panennya gagal karena tanah sudah terbiasa dengan bahan kimia.

Namun, usahanya tak sia-sia meski dia membutuhkan waMu enam tahun untuk meyakinkan petani lain agar mengikuti jejaknya. “Petani itu tak perlu diajak. Mereka akan mengikuti apa yang dilakukan temannya yang berhasil. Mereka melihat bukti..Ketika apa yang saya lakukan berhasil, mereka mengikuti,” ujar ayah dua anak yang juga menemukan formulasi pupuk dan pestisida alami ini.

Berawal dari memenuhi permintaan pasar pada tingkat lokal, Kelompok Tani Tranggulasi kemudian mengekspor buncis perancis pada 7 Desember 2009 ke Singapura dengan volume pengiriman pertama 26 kilogram. Setelah itu, pengiriman rutin dilakukan setiap Minggu, Selasa, dan Kamis dengan volume semakin besar.

Untuk memenuhi pennintaan, mereka menggandeng petani lain. Volume pengiriman itu pun meningkat hingga 1 ton sekali kirim setiap pekan. Buah kerja keras itu telah dipetik Pitoyo dan petani di dusunnya. Namun, kampanye pertanian organik belum berhenti.

(Amanda Putri/Sonya Helen Sinombor)

==========

PITOYO NGATlMlN

Lahir: 
Kabupaten Semarang, 10 Oktober 1967
Istri: 
Siti lmronah (41)
Anak:
1. Eko Binti Lestari (21)
2. Lintang Dwi Nandani (10)
Pendidikan:
- Sekolah Pertanian Menengah Atas Joko Tingkir, Salatiga, 1987
- Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Teknologi Pembangunan Surakarta, 2010
Penghargaan:
- Anugerah Ketahanan Pangan Nasional, 2006
- Budidaya Sayuran Organik Tingkat Nasional, 2006
- Kalpataru, Perintis Lingkungan tingkat Kabupaten Semarang, 2007
- Adikarya Pangan Nusantara, 2011
Aktivitas:
- Ketua Kelompok Tani Tranggulasi, 2005-kini
- Pengajar SMP dan SMK/Sekolah Pertanian Pembangunan Dharma Lestari, Salatiga

Thursday, August 8, 2013

Lebaran di Negeri "Kikir"



Di negeri ini Lebaran telah disandera kuasa kapital. Maka, ritus Lebaran pun harus menyesuaikan atau ditentukan oleh logika kapital. Kaum miskin otomatis tersingkir dan merayakan Lebaran dengan tersaruk-saruk.

Pemandangan yang klasik pun selalu menyergap batin kita. Di sejumlah daerah, orang-orang miskin harus bertanuh nyawa untuk mendapatkan bingkisan bahan kebutuhan pokok atau uang zakat dari para dermawan.

Lihatlah juga iring-iringan rombongan pengemis berderap-derap menyerbu kota demi mengais remah-remah rezeki. Kenyataan memilukan itu hanyalah puncak dari gunung es kemiskinan rakyat. Negara pun selalu menutupinya dengan karpet biru berbordir “angka kemiskinan menurun”.

Di sisi lain, kaum miskin juga dihadang kapitalisme. Dengan konsumtivisme, kuasa kapital telah mendegradasikan Lebaran ke dimensi profan: euforia pasar.

Padahal, sejatinya Lebaran merupakan momentum “keramat” bagi masyarakat plural. Ia menjadi wahana sosial-budaya untuk mengukuhkan nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kolektif.

Penziarahan nilai

Pada momentum itu masyarakat melakukan penziarahan nilai untuk bisa kembali ke dalam jati diri dan basis sosialnya setelah sebelumnya basah kuyup dalam kubangan rutinitas yang mengasingkan kemanusiaannya.

Pulang ke dalam pelukan kehangatan keluarga, handai tolan, dan kerabat pun menjadi kebutuhan asasi setiap manusia. Di situ, setiap individu, yang selama ini terpisah secara geografis karena alasan mencari penghidupan, melakukan pengukuhan nilai-nilai persaudaraan dan memperkuat solidaritas sosial.

Kaum miskin, baik urban dan non-urban, cemas dan gemetar memasuki Lebaran yang sarat dinamika komersial dan mahal. Mereka dipaksa memiliki paspor Lebaran berupa uang dan daya beli tinggi. Paspor itu terasa absurd bagi mereka yang memiliki penghasilan per hari Rp 20.000 atau di bawahnya.

Jumlah mereka cukup besar, bukan hanya sekitar 30 juta orang seperti dikatakan Badan Pusat Statistik, melainkan bisa mencapai 80 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Ini mengambil pernyataan Ahmad Syafii Maarif bahwa baru 20 persen penduduk negri ini yang menikmati kemerdekaan.

Kenyataan di atas tentu menyisakan pertanyaan: ke mana kemakmuran negeri ini? Kekayaan itu raib oleh tiga hal.

Pertama, inkompetensi penyelenggara negara. Akibatnya, seluruh kekayaan alam kita belum mewujud menjadi realitas material yang dinikmati semua warga negara.

Kedua, mentalitas “makelar” yang masih diidap sebagian penyelenggara negara. Mereka menggadaikan kekayaan alam dan aset negara kepada kekuatan modal asing.

Ketiga, korupsi para penyelenggara negara yang berkolaborasi dengan komunitas ekonomi hitam. Akibatnya,distribusi kesejahteraan terhambat dan terbendung untuk sampai ke seluruh rakyat.

Dalam setting kemakmuran itu, kita bisa menilai bahwa negara berwatak “rakus” dan “kikir” terhadap warga negaranya, terutama kaum miskin. Rakus karena melimpahnya aset negara dikuasai kelompok elite dalam sistem kekuasaan berwatak oligarkis dan kartel. Kikir karena para penyelenggara hanya memberi sedikit dari kemelimpahan aset negara kepada rakyat.

Ironi

Rakyat pun disergap ironi getir. Di tengah kemiskinan rakyat, uang negara justru terkuras oleh
korupsi. Untuk memulangkan tersangka korupsi Muhammad Nazaruddin dari Kolombia saja
negara harus rnengeluarkan dana Rp 4 miliar.

Semakin ironis manakala Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkap: dugaan korupsi yang dilakukan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu terkait puluhan kasus dan nilainya mencapai lebih dari Rp 6 triliun. Ini baru dari satu tersangka korupsi.

Hitung saja, berapa triliun rupiah uang negara yang raib terkait dengan praktik-praktik penggarongan uang negara yang selama ini terjadi?

Makna kehadiran negara diukur dari kemampuannya melayani rakyat sesuai amanat konstitusi (melindungi, menyejahterakan, dan mencerdaskan rakyat). Kualitas pelayanan itu pula yang menjadikan rakyat merasa eksis sebagai warga negara.

Ketika mangkir dari kewajibannya, sesungguhnya negara telah kehilangan legitimasinya di mata rakyat. Di benak rakyat pun muncul ruang tafsir yang tidak sedap: negara absen, negara kikir, negara rakus, negara gagal, negara pasar, negara lenyap, dan seterusnya.

Rakyat ada sebelurn negara ada. Kini, rakyat telah menjelma menjadi kelompok manusia anonim, seperti ketika negara ini belum terbentuk. Rakyat tidak mau gede rasa untuk mengklaim dirinya sebagai “rakyat Indonesia” karena mereka merasa yatim-piatu, tidak diurusi negara.

Rakyat tidak pernah cengeng mengemis kepedulian kepada negara karena mereka sejatinya adalah juragan alias pemilik sah kedaulatan. Negaralah yang semestinya tahu diri di posisinya sebagai pelayan rakyat. Negara mestinya malu manakala sang rnajikan itu kini terpuruk dalam penderitaan.

Namun, rakyat selalu mampu mengatasi problem dengan cara-ya sendiri. Juga, ketika mereka harus merayakan dan menikmati keindahan lebaran meskipun penuh keterbatasan.


Kompas, 27 Agustus 2011
Oleh: Indra Tranggono
Pemerhati Kebudayaan